LAPORAN DATA
KECENDERUNGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI TAHUN 2025 – 2026
I.
Pendahuluan
Pemantauan
data keanekaragaman hayati dilakukan untuk mengetahui perubahan jumlah sumber
daya biologis di wilayah Pulau Sarang dari tahun ke tahun. Data ini digunakan
sebagai dasar evaluasi kondisi ekosistem, identifikasi kecenderungan populasi,
serta penyusunan langkah pengelolaan dan konservasi keanekaragaman hayati
secara berkelanjutan.
Pemantauan
mencakup beberapa kelompok sumber daya biologis, yaitu terumbu karang, ikan,
gastropoda (kelompok siput), dan bivalvia (kelompok kerang). Status konservasi
spesies ditinjau berdasarkan kategori IUCN, CITES, serta peraturan perlindungan
yang berlaku di Indonesia (PP).
II.
Konservasi Terumbu Karang di Pulau Sarang
Ekosistem
terumbu karang di Pulau Sarang saat ini berada dalam kondisi yang
memprihatinkan akibat berbagai tekanan, baik yang bersifat alami maupun
terutama aktivitas manusia. Praktik pengambilan karang secara ilegal,
penangkapan ikan dengan cara merusak (destructive
fishing) menggunakan bahan peledak maupun racun, serta tingginya
tekanan perdagangan karang hias lintas batas menjadi faktor dominan yang
mempercepat kerusakan ekosistem di wilayah ini. Dampak langsung dari aktivitas
tersebut terlihat pada menurunnya tutupan karang hidup, meningkatnya area yang
didominasi oleh karang mati, serta berkurangnya kompleksitas struktur habitat
yang sebelumnya mampu mendukung keanekaragaman hayati tinggi.
Penurunan
kualitas habitat ini juga tercermin dari semakin jarangnya dijumpai
spesies-spesies kunci yang menjadi indikator kesehatan terumbu karang, seperti
karang otak (Diploria
labyrinthiformis), karang daun (Montipora
aquituberculata), karang tanduk rusa (Acropora microphthalma), dan karang Togean (Isopora togianensis).
Spesies-spesies tersebut sebelumnya memiliki peran penting dalam menjaga
keseimbangan ekosistem melalui pembentukan struktur terumbu dan penyediaan
ruang bagi berbagai jenis ikan karang serta biota laut lainnya. Hilangnya spesies-spesies
ini menunjukkan terjadinya gangguan serius pada fungsi ekologis terumbu karang.
Selain
berdampak pada biodiversitas laut, degradasi terumbu karang juga membawa
konsekuensi sosial-ekonomi bagi masyarakat pesisir. Berkurangnya kelimpahan
ikan karang menyebabkan penurunan hasil tangkapan nelayan, sehingga mengancam
keberlanjutan mata pencaharian mereka. Sementara itu, hilangnya fungsi alami
terumbu karang sebagai pelindung pesisir dari gelombang dan arus laut menambah
kerentanan wilayah pesisir terhadap ancaman abrasi. Dengan demikian, kondisi
awal ekosistem terumbu karang di Pulau Sarang dapat dikategorikan sebagai
terdegradasi berat, memerlukan upaya pemulihan yang serius, serta pengelolaan
berkelanjutan agar dapat kembali berfungsi optimal sebagai penopang kehidupan
laut maupun masyarakat sekitarnya.
III.
Analisis Kencenderungan Keanekaragaman
Hayati
Berdasarkan Baseline data sebaran keanekaragaman
hayati di Pulau Sarang diketahui bahwa ada beberapa sebaran keanekaragaman
hayati yang paling mendominasi di ekosistem perairan laut Pulau Sarang yaitu terumbu
karang, ikan, siput, kerang dan teripang. Berikut ini daftar sebaran jumlah
keanekaragaman hayati di Pulau Sarang sebelum dan sesudah adanya Program Sarang
Eco Inovasi – Konservasi terumbu karang.
Table 1 Daftar Jumlah Keanekaragaman Hayati di
Pulau Sarang Sebelum Adanya Program
Sumber : Data Baseline Tahun 2023 - 2025
Table 2 Daftar Jenis Fauna di Pulau Sarang Setelah Adanya
Program
Sumber
: Data Monitoring dan Evaluasi Tahun 2024 – 2026
Dari data diatas dapat dilihat adanya bahwa adanya peningkatan kencenderungan jumlah keanekaragaman hayati yang ada di Pulau Sarang seperti adanya populasi baru yaitu siput gonggong dan teripang/gamat pasir. Keberadaan populasi ini sendiri akibat keberhasilan dari kegiatan transplantasi terumbu karang di wilayah perairan laut.
26


Komentar
Posting Komentar